BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Pendidikan merupakan pintu gerbang utama dalam kehidupan manusia. Dengan pendidikan manusia akan mampu membuka cakrawala intelek yang luas dan semakin luas. Pendidikan dapat diperoleh dengan beragam cara dan pola. Ungkapan "Bacalah" yang diwahyukan kepada Rasulullah SAW merupakan muasal cerita dan berita perubahan besar-besaran dunia, terutama dunia Islam, yang mampu mengubah pola pikir atau paradigma manusia menuju manusia beriman yang berkualitas dan yang mewarnai semua sendi kehidupan serta mampu berkolaborasi segala disiplin ilmu.
Dalam Pandangan Islam, Langgulung mengatakan bahwa pendidikan Islam tercakup dalam delapan pengertian, yaitu At-Tarbiyyah Ad-Din (Pendidikan keagamaan), At-Ta’lim fil Islamy (pengajaran keislaman), Tarbiyyah Al-Muslimin (Pendidikan orang-orang islam), At-tarbiyyah fil Islam (Pendidikan dalam islam), At-Tarbiyyah ‘inda Muslimin (pendidikan dikalangan Orang-orang Islam), dan At-Tarbiyyah Al-Islamiyyah (Pendidikan Islami). Arti pendidikan Islam itu sendiri adalah pendidikan yang berdasarkan Islam. Bagian dari suatu ilmu adalah teori yang selanjutnya menjadi pakem atau pedoman bagi pemahaman dan pengertian suatu bidang kajian tertentu. Isi ilmu antariksa adalah teori tentang antariksa. Kandungan ilmu pendidikan adalah teori-teori tentang pendidikan. Sedangkan ilmu pendidikan Islam secara lengkap adalah suatu ilmu bukanlah hanya teori.
Hakikat manusia menurut Islam adalah makhluk (ciptaan) Allah. Hakikat wujud manusia adalah mahkluk yang perkembangannya dipengaruhi oleh pembawaan dan diwarnai oleh lingkungan. Manusia sempurna menurut Islam adalah jasmani yang sehat serta kuat dan berketerampilan, cerdas, cermat serta pandai dan bijak. Tujuan dasar dari pendidikan Islam adalah terbentuknya manusia sebagai hamba Allah. Jadi menurut Islam, pendidikan bertujuan menjadikan seluruh umat manusia yang menghambakan dirinya kepada Allah. Yang dimaksud menghambakan diri ialah menjadi hamba yang taat beribadah secara kaffah kepada Allah.
Dalam Pandangan Islam, Langgulung mengatakan bahwa pendidikan Islam tercakup dalam delapan pengertian, yaitu At-Tarbiyyah Ad-Din (Pendidikan keagamaan), At-Ta’lim fil Islamy (pengajaran keislaman), Tarbiyyah Al-Muslimin (Pendidikan orang-orang islam), At-tarbiyyah fil Islam (Pendidikan dalam islam), At-Tarbiyyah ‘inda Muslimin (pendidikan dikalangan Orang-orang Islam), dan At-Tarbiyyah Al-Islamiyyah (Pendidikan Islami). Arti pendidikan Islam itu sendiri adalah pendidikan yang berdasarkan Islam. Bagian dari suatu ilmu adalah teori yang selanjutnya menjadi pakem atau pedoman bagi pemahaman dan pengertian suatu bidang kajian tertentu. Isi ilmu antariksa adalah teori tentang antariksa. Kandungan ilmu pendidikan adalah teori-teori tentang pendidikan. Sedangkan ilmu pendidikan Islam secara lengkap adalah suatu ilmu bukanlah hanya teori.
Hakikat manusia menurut Islam adalah makhluk (ciptaan) Allah. Hakikat wujud manusia adalah mahkluk yang perkembangannya dipengaruhi oleh pembawaan dan diwarnai oleh lingkungan. Manusia sempurna menurut Islam adalah jasmani yang sehat serta kuat dan berketerampilan, cerdas, cermat serta pandai dan bijak. Tujuan dasar dari pendidikan Islam adalah terbentuknya manusia sebagai hamba Allah. Jadi menurut Islam, pendidikan bertujuan menjadikan seluruh umat manusia yang menghambakan dirinya kepada Allah. Yang dimaksud menghambakan diri ialah menjadi hamba yang taat beribadah secara kaffah kepada Allah.
BAB II
PEMBAHASAN
1. PENGERTIAN PENDIDIKAN
A. Pengertian Pendidikan Secara Umum
Pengertian pendidikan
menurut para ahli, diantaranya adalah:
1. Menurut Juhn Dewey,
pendidikan adalah suatu proses pembaharuan makna pengalaman yang mungkin
akan terjadi di dalam pergaulan biasa atau pergaulan orang dewasa dengan orang
muda, mungkin pula terjadi secara sengaja dan dilembagakan untuk menghasilkan kesinambungan sosial. Proses ini melibatkan pengawasan dan
perkembangan dari orang yang belum dewasa dan kelompok dimana dia hidup.
2. Menurut H. Horne,
pendidikan merupakan suatu proses terus-menerus yang bersifat abadi dari penyesuaian yang lebih
tinggi bagi makhluk manusia yang telah mengalami perkembangan secara fisik dan mental, yang
bebas dan sadar kepada Tuhan, seperti termanifestasi dalam alam sekitar
intelektual, emosional dan kemanusiaan dari manusia.
3. Menurut Frederick J.
Mc Donald, pendidkan merupakan suatu proses atau kegiatan yang diarahkan untuk
merubah watak manusia. Yang dimaksud dengan watak adalah setiap
tanggapan atau perbuatan seseorang, sesuatu yang dilakukan oleh sesorang.
4. Menurut M.J.
Langeveld, pendidikan merupakan setiap pergaulan yang terjadi antara orang dewasa dengan anak-anak dan merupakan lapangan
atau suatu keadaan dimana pekerjaan mendidik itu berlangsung.
B. Pengertian Pendidikan Menurut Islam
Pendidikan Islam adalah pendidikan yang berdasarkan dan bernafaskan Islam. Salah satu isi
ilmu adalah teori. Pada isi ilmu kelautan adalah teori tentang kelautan. Pada isi ilmu
pendidikan adalah teori-teori tentang pendidikan. Sedangkan ilmu pendidikan Islam secara
lengkap isi suatu ilmu dan bukan hanya merupakan teori.
Pengertian pendidikan bahkan lebih diperluas cakupannya yaitu sebagai aktivitas
dan fenomena. Pendidikan sebagai aktivitas berarti ia adalah suatu bentuk upaya yang secara sadar
disusun untuk membantu orang atau sekelompok orang dalam mengembangkan
pandangan hidup, sikap hidup, dan keterampilan hidup, baik yang bersifat manual
(terapan) maupun mental, dan sosial. Sedangkan pendidikan sebagai
fenomena, ia merupakan suatu peristiwa interaksi antara dua orang atau lebih yang berdampak pada berkembangnya suatu pandangan hidup, sikap hidup, atau keterampilan hidup
pada salah satu atau beberapa pihak. Kedua pengertian ini harus
bernafaskan ajaran dan nilai-nilai Islam yang bersumber dari
Al Qur’an dan Sunnah (Hadits).
2. RUANG
LINGKUP PENDIDIKAN ISLAM
A. Pendidikan
Keimanan
“Dan
ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya diwaktu ia memberikan pelajaran
kepadanya:”hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesengguhnya
mempersekutukan Allah adalah benar-benar kedzaliman yang nyata.” (Q.S
31:13)
Bagaimana cara mengenalkan Allah SWT dalam kehidupan
anak?
·
Menciptakan hubungan yang hangat dan harmonis (bukan
memanjakan)
Jalin hubungan komunikasi yang baik
dengan anak, bertutur kata lembut, bertingkah laku positif.
Hadits Rasulullah : “cintailah
anak-anak kecil dan sayangilah mereka…:” (H.R Bukhari)
“Barang siapa mempunyai anak kecil, hendaklah ia turut berlaku kekanak-kanakkan kepadanya.” (H.R Ibnu Babawaih dan Ibnu Asakir)
“Barang siapa mempunyai anak kecil, hendaklah ia turut berlaku kekanak-kanakkan kepadanya.” (H.R Ibnu Babawaih dan Ibnu Asakir)
·
Menghadirkan sosok Allah melalui aktivitas rutin
Seperti ketika kita
bersin katakan alhamdulillah. Ketika kita memberikan uang jajan katakan bahwa
uang itu titipan Allah jadi harus dibelanjakan dengan baik seperti beli roti.
·
Memanfaatkan momen religious
Seperti Sholat
bersama, tarawih bersama di bulan ramadhan, tadarus, buka shaum bareng.
·
Memberi kesan positif tentang Allah dan kenalkan
sifat-sifat baik Allah
Jangan mengatakan “ nanti Allah marah
kalau kamu berbohong” tapi katakanlah “ anak yang jujur disayang Allah”.
·
Beri teladan
Anak akan bersikap
baik jika orang tuanya bersikap baik karena anak menjadikan orang tua model
atau contoh bagi kehidupannya.
“hai orang-orang
yang beriman mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar di
sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan”.(Q.S
61:2-3)
·
Kreatif dan terus belajar
Sejalan dengan
perkembangan anak. Anak akan terus banyak memberikan pertanyaan. Sebagai orang
tua tidak boleh merasa bosan dengan pertanyaan anak malah kita harus dengan
bijaksana menjawab segala pertanyaannya dengan mengikuti perkembangan anak.
B. Pendidikan Akhlak
Hadits dari Ibnu Abas
Rasulullah bersabda:
“… Akrabilah
anak-anakmu dan didiklah akhlak mereka.”
Rasulullah saw
bersabda:
”Suruhlah anak-anak
kamu melakukan shalat ketika mereka telah berumur tujuh tahun dan pukullah
mereka kalau meninggalkan ketika mereka berumur sepuluh tahun, dan pisahkan
tempat tidur mereka.” (HR. Abu Daud)
Bagaimana cara
megenalkan akhlak kepada anak :
·
Penuhilah kebutuhan emosinya
Dengan mengungkapkan
emosi lewat cara yang baik. Hindari mengekspresikan emosi dengan cara kasar,
tidak santun dan tidak bijak. Berikan kasih saying sepenuhnya, agar anak
merasakan bahwa ia mendapatkan dukungan.
Hadits Rasulullah :
“ Cintailah anak-anak kecil dan sayangilah mereka …:” (H.R
Bukhari)
·
Memberikan pendidikan mengenai yang haq dan bathil
“Dan janganlah kamu
campur adukan yang haq dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang
haq itu, sedang kamu mengetahui .”(Q.S 2:42)
Seperti bahwa
berbohong itu tidak baik, memberikan sedekah kepada fakir miskin itu baik.
·
Memenuhi janji
Hadits Rasulullah
:”…. Jika engkau menjanjikan sesuatu kepada mereka, penuhilah janji
itu. Karena mereka itu hanya dapat melihat, bahwa dirimulah yang memberi rizki
kepada mereka.” (H.R Bukhari)
·
Meminta maaf jika melakukan kesalahan
·
Meminta tolong/ mengatakan tolong jika kita memerlukan
bantuan.
· Mengajak anak
mengunjungi kerabat
C. Pendidikan intelektual
Menurut kamus
Psikologi istilah intelektual berasal dari kata intelek yaitu proses
kognitif/berpikir, atau kemampuan menilai dan mempertimbangkan.
Pendidikan intelektual
ini disesuaikan dengan kemampuan berpikir anak. Menurut Piaget seorang
Psikolog yang membahas tentang teori perkembangan yang terkenal juga
dengan Teori Perkembangan Kognitif mengatakan ada 4 periode
dalam perkembangan kognitif manusia, yaitu:
Periode 1, 0 tahun – 2
tahun (sensori motorik)
·
Mengorganisasikan tingkah laku fisik seperti menghisap, menggenggam dan
memukul pada usia ini cukup dicontohkan melalui seringnya dibacakan ayat-ayat
suci al-Quran atau ketika kita beraktivitas membaca bismillah.
Periode 2, 2
tahun – 7 tahun (berpikir Pra Operasional)
·
Anak mulai belajar untuk berpikir dengan menggunakan symbol dan khayalan
mereka tapi cara berpikirnya tidak logis dan sistematis.
Seperti contoh nabi Ibrahim mencari
Robbnya.
Periode 3, 7 tahun- 11 tahun (Berpikir
Kongkrit Operasional)
·
Anak mengembangkan kapasitas untuk berpikir sistematik
Contoh : Angin tidak
terlihat tetapi dapat dirasakan begitu juga dengan Allah SWT tidak dapat
dilihat tetapi ada ciptaannya.
Periode 4, 11 tahun-
Dewasa (Formal Operasional)
· Kapasitas berpikirnya
sudah sistematis dalam bentuk abstrak dan konsep
D. Pendidikan fisik
· Dengan memenuhi
kebutuhan makanan yang seimbang, memberi waktu tidur dan aktivitas yang cukup
agar pertumbuhan fisiknya baik dan mampu melakukan aktivitas seperti yang
disunahkan Rasulullah
“ Ajarilah anak-anakmu
memanah, berenang dan menunggang kuda.” (HR. Thabrani)
E. Pendidikan Psikis
“Dan janganlah kamu
bersifat lemah dan jangan pula berduka cita, padahal kamulah orang-orang yang
paling tinggi derajatnya, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS.
3:139)
·
Memberikan kebutuhan emosi, dengan cara memberikan kasih saying,
pengertian, berperilaku santun dan bijak.
·
Menumbuhkan rasa percaya diri
·
Memberikan semangat tidak melemahkan
3. DESKRIPSI
PENDIDIKAN MENURUT DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN NASIONAL
Pendidikan pada
dasarnya merupakan suatu upaya pedagogis untuk menstranfer sejumlah nilai yang
dianut oleh masyarakat suatu bangsa kepada sejumlah subjek didik melalui proses
pembelajaran, pelatihan dan pembiasaan. Sistem nilai tersebut tercantum dalam sistem pendidikan yang
dirumuskan sebagai dasar-dasar pandangan hidup bangsa. Rumusan pandangan
hidup tersebut kemudian dituangkan dalam Undang-Undang Dasar dan
perundang-undangan. Dalam Undang-Undang Dasar dan perundang-undangan, pandangan filosofis suatu bangsa di antaranya tercermin dalam sistem pendidikan
yang dijalankan.
Bagi bangsa Indonesia,
pandangan filosofis mengenai pendidikan dapat dilihat pada tujuan nasional
sebagaimana termaktub dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 paragraf
keempat. Secara umum tujuan pendidikan nasional adalah untuk mencerdaskan
kehidupan bangsa. Kemudian secara terperinci dipertegas lagi dalam
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
BAB III
TUJUAN PENDIDIKAN
1. TUJUAN
PENDIDIKAN PANCASILA
Rumusan formal
konstitusional dalam UUD 1945 maupun dalam GBHN dan Undang-Undang Kependidikan
lainnya yang berlaku adalah tujuan normative GBHN 1983 merumuskan tujuan
pendidikan nasional sebagai berikut :
“Pendidikan nasional
berdasarkan Pancasila bertujuan untuk meningkatkan ketakwaan tarhadap Tuhan
Yang Maha Esa, kecerdasan dan keterampilan , mempertinggi budi pekerti,
memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan dan cinta tanah air,
agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan dirinya sendiri serta
bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa
2. TUJUAN
UMUM PENDIDIKAN MANUSIA
a. Hakikat
manusia menurut Islam
Manusia adalah makhluk
(ciptaan) Tuhan, hakikat wujudnya bahwa manusia adalah mahkluk yang
perkembangannya dipengaruhi oleh pembawaan dan lingkungan.
Dalam teori pendidikan
lama, yang dikembangkan didunia barat, dikatakan bahwa perkembangannya
seseorang hanya dipengaruhi oleh pembawaan (nativisme) sebagai lawannya
berkembang pula teori yang mengajarkan bahwa perkembangan seseorang hanya
ditentukan oleh lingkungannya (empirisme), sebagai sintesisnya dikembangkan
teori ketiga yang mengatakan bahwa perkembangan seseorang ditentukan oleh
pembawaan dan lingkungannya (konvergensi).
Manusia adalah makhluk
utuh yang terdiri atas jasmani, akal, dan rohani sebagai potensi pokok, manusia
yang mempunyai aspek jasmani, disebutkan dalam surah al Qashash ayat : 77 :
“Carilah kehidupan
akhirat dengan apa yang dikaruniakan Allah kepadamu tidak boleh melupakan
urusan dunia “
b. Manusia
Dalam Pandangan Islam
Manusia dalam
pandangan Islam mempunyai aspek jasmani yang tidak dapat dipisahkan dari aspek
rohani tatkala manusia masih hidup didunia. Manusia mempunyai aspek akal. Kata
yang digunakan al Qur’an untuk menunjukkan kepada akal tidak hanya satu macam.
Harun Nasution menerangkan ada tujuh kata yang digunakan :
1. Kata
Nazara, dalam surat al Ghasiyyah ayat 17 :
“Maka apakah mereka
tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan”
2. Kata
Tadabbara, dalam surat Muhammad ayat 24 :
“Maka apakah mereka
tidak memperhatikan al Qur’an ataukah hati mereka terkunci?”
3. Kata
Tafakkara, dalam surat an Nahl ayat 68 :
“Dan Tuhanmu
mewahyukan kepada lebah : “buatlah sarang-sarang dibukit-bukit, dipohon-pohon
kayu, dan ditempat-tempat yang dibikin manusia”.
4. Kata
Faqiha, dalam surat at Taubah 122 :
“Tidak sepatutnya bagi
orang-orang yang mu’min itu pergi semuanya (kemedan perang). Mengapa tidak
pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam
pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya
apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”
5. Kata
Tadzakkara, dalam surat an Nahl ayat 17 :
“Maka apakah (Allah)
yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan apa-apa? Maka
mengapa kamu tidak mengambil pelajaran”.
6. Kata
Fahima, dalam surat al Anbiya ayat 78 :
“Dan ingatlah kisah
daud dan Sulaiman, diwaktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman,
karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah
kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu”.
7. Kata
‘Aqala, dalam surat al Anfaal ayat 22 :
“Sesungguhnya binatang(makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah
orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apa-pun.
Manusia mempunyai
aspek rohani seperti yang dijelaskan dalam surat al Hijr ayat 29 :
“Maka Aku telah
menyempurnakan kejadiannya dan meniupkan kedalamnya roh-Ku, maka sujudlah
kalian kepada-Nya”.
3. MANUSIA
SEMPURNA MENURUT ISLAM
a. Jasmani
Yang sehat Serta Kuat dan Berketerampilan
Islam menghendaki agar
orang Islam itu sehat mentalnya karena inti ajaran Islam (iman). Kesehatan
mental berkaitan erat dengan kesehatan jasmani, karena kesehatan jasmani itu
sering berkaitan dengan pembelaan Islam.
Jasmani yang sehat
serta kuat berkaitan dengan ciri lain yang dikehendaki ada pada Muslim yang
sempurna, yaitu menguasai salah satu ketrampilan yang diperlukan dalam mencari
rezeki untuk kehidupan.
Para pendidik Muslim
sejak zaman permulaan – perkembangan Islam telah mengetahui betapa pentingnya
pendidikan keterampilan berupa pengetahuan praktis dan latihan kejuruan. Mereka
menganggapnya fardhu kifayah, sebagaimana diterangkan dalam surat Hud ayat 37 :
“Dan buatlah bahtera itu dibawah pengawasan
dan petunjuk wahyu kami, dan jangan kau bicarakan dengan aku tentang
orang-orang yang zalim itu karena meeka itu akan ditenggelamkan”.
b. Cerdas
Serta Pandai
Islam menginginkan
pemeluknya cerdas serta pandai yang ditandai oleh adanya kemampuan dalam menyelesaikan
masalah dengan cepat dan tepat, sedangkan pandai di tandai oleh banyak memiliki
pengetahuan dan informasi. Kecerdasan dan kepandaian itu dapat dilihat melalui
indikator-indikator sebagai berikut :
1) Memiliki
sains yang banyak dan berkualitas tinggi.
2) Mampu
memahami dan menghasilkan filsafat.
3) Rohani yang
berkualitas tinggi.
Kekuatan rohani
(tegasnya kalbu) lebih jauh daripada kekuatan akal. Karena kekuatan jasmani
terbatas pada objek-objek berwujud materi yang dapat ditangkap oleh indera.
Islam sangat
mengistemewakan aspek kalbu. Kalbu dapat menembus alam ghaib, bahkan menembus
Tuhan. Kalbu inilah yang merupakan potensi manusia yang mampu beriman secara
sungguh-sungguh. Bahkan iman itu, menurut al Qur’an tempatnya didalam kalbu.
4. TUJUAN
PENDIDIKAN ISLAM (KHUSUS)
Menurut Abdul Fatah
Jalal, tujuan umum pendidikan Islam ialah terwujudnya manusia sebagai hamba
Allah. Jadi menurut Islam, pendidikan haruslah menjadikan seluruh manusia yang
menghambakan kepada Allah. Yang dimaksud menghambakan diri ialah beribadah
kepada Allah.
Islam menghendaki agar
manusia dididik supaya ia mampu merealisasikan tujuan hidupnya sebagaimana yang
telah digariskan oleh Allah. Tujuan hidup menusia itu menurut Allah ialah
beribadah kepada Allah. Seperti dalam surat a Dzariyat ayat 56 :
“ Dan Aku menciptakan
Jin dan Manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku”.
Jalal menyatakan bahwa
sebagian orang mengira ibadah itu terbatas pada menunaikan shalat, shaum pada
bulan Ramadhan, mengeluarkan zakat, ibadah Haji, serta mengucapkan syahadat.
Tetapi sebenarnya ibadah itu mencakup semua amal, pikiran, dan perasaan yang
dihadapkan (atau disandarkan) kepada Allah. Aspek ibadah merupakan kewajiban
orang islam untuk mempelajarinya agar ia dapat mengamalkannya dengan cara yang benar.
Ibadah ialah jalan
hidup yang mencakup seluruh aspek kehidupan serta segala yang dilakukan manusia
berupa perkataan, perbuatan, perasaan, pemikiran yang disangkutkan dengan
Allah.
Menurut al Syaibani,
tujuan pendidikan Islam adalah :
1. Tujuan
yang berkaitan dengan individu, mencakup perubahan yang berupa pengetahuan,
tingkah laku masyarakat, tingkah laku jasmani dan rohani dan
kemampuan-kemampuan yang harus dimiliki untuk hidup di dunia dan di akhirat.
2. Tujuan
yang berkaitan dengan masyarakat, mencakup tingkah laku masyarakat, tingkah
laku individu dalam masyarakat, perubahan kehidupan masyarakat, memperkaya
pengalaman masyarakat.
3. Tujuan
profesional yang berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran sebagai ilmu,
sebagai seni, sebagai profesi, dan sebagai kegiatan masyarakat.
Menurut al abrasyi,
merinci tujuan akhir pendidikan islam menjadi
1. Pembinaan akhlak.
2. menyiapkan anak didik untuk
hidup dudunia dan akhirat.
3. Penguasaan ilmu.
4. Keterampilan bekerja dalam
masyrakat.
Menurut Asma hasan Fahmi, tujuan akhir pendidikan islam dapat diperinci menjadi;
1. Tujuan keagamaan.
2. Tujuan pengembangan akal dan
akhlak.
3. Tujuan pengajaran kebudayaan.
4. Tujuan pembicaraan kepribadian.
Menurut Munir Mursi, tujuan pendidikan islam menjadi :
1. Bahagia di
dunia dan akhirat.
2. menghambakan
diri kepada Allah.
3. Memperkuat
ikatan keislaman dan melayani kepentingan masyarakat islam.
4. Akhlak
mulia.
BAB IV
PENUTUP
KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa tujuan inti pendidikan islam adalah:
Terwujudnya manusia sebagai hamba Allah. Jadi menurut Islam, pendidikan
haruslah menjadikan seluruh manusia yang menghambakan kepada Allah. Yang
dimaksud menghambakan diri ialah beriman, taat dan beribadah kepada Allah.
Ilmu dalam pandangan Islam bukan hanya mempelajari masalah keagamaan
(akhirat) saja, tapi juga pengetahuan umum. Orang Islam dibekali ilmu untuk dunia dan akhirat. Dan ilmu umum pun termasuk pada
cabang ilmu agama.
Dan umat Islam sempat merasakan puncak keemasannya, dimana disaat bangsa
Eropa mengidap penyakit hitam, umat islam sudah menemukan sabun, di saat
jalan-jalan di Eropa kumuh, gelap, tidak teratur, umat islam sudah punya
jalan-jalan yang indah, penerangan, bahkan sistem irigasi yang sudah maju.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Tafsir., Ilmu Pendidikan Dalam
Perspektif Islam., PT. Remaja Rosdakarya., Bandung, 2001
Nur Uhbiyati., Ilmu Pendidikan Islam., CV. Pustaka Setia.,
Bandung, 1998
Ahmad Hanafi, M.A., Pengantar Filsafat
Islam, Cet. IV, Bulan Bintang, Jakarta, 1990.
Prasetya, Drs., Filsafat Pendidikan, Cet. II, Pustaka
Setia, Bandung, 2000
Abuddin Nata, M.A., Filsafat Pendidikan
Islam, Cet. I, Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 1997
Zuhairini. Dra, dkk., Filsafat Pendidikan
Islam, Cet.II, Bumi Aksara, Jakarta, 1995.
Ali Saifullah H.A., Drs., Antara Filsafat dan
Pendidikan, Usaha Nasional, Surabaya, 1983.
Tilaar, Prof. Dr., 2004, Manajemen Pendidikan
Nasional, PT. Remaja Rosdakarya., Bandung
H. A. Yunus, Drs., S.H., MBA. Filsafat
Pendidikan, CV. Citra Sarana Grafika. Bandung. 1999.
Sumber: juniarari.blogspot.com
No comments:
Write comments